Foto Saat Warga Berjalan Kaki Antar Jenazah Ke Peristirahatan Terakhirnya.
kabarpesisirjambi.com | Tanjab Barat — Di tengah semarak peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dan Hari Jadi Kabupaten Tanjung Jabung Barat ke-61, sebuah kisah pilu justru datang dari pelosok daerah.
Warga Teluk Nilau, Parit Sungai Rejo, Kecamatan Pengabuan, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, harus mengantarkan jenazah menuju lokasi pemakaman dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih lima kilometer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Momen yang seharusnya menjadi penghormatan terakhir bagi orang yang telah meninggal dunia itu berubah menjadi perjalanan panjang dan menguras tenaga.
Warga terpaksa berjalan kaki sambil membawa jenazah karena akses menuju lokasi pemakaman dinilai sulit dilalui kendaraan.
Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah video yang kemudian beredar di media sosial dan mendapat perhatian masyarakat.
“Beginilah kami mengantarkan jenazah ke pemakaman, berjalan kaki kurang lebih lima kilometer,” demikian keterangan yang menyertai unggahan video tersebut.
Kondisi ini kembali membuka keluhan warga terkait minimnya fasilitas transportasi dan akses jalan di wilayah mereka.
Warga berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat memberikan perhatian serius, salah satunya dengan menyediakan ambulans desa serta melakukan perbaikan dan pengerasan jalan menuju lokasi pemakaman.
Terlebih saat musim hujan tiba, kondisi jalan disebut semakin sulit dilalui kendaraan. Situasi tersebut tentu menjadi persoalan serius, bukan hanya ketika warga harus mengantarkan jenazah, tetapi juga dalam aktivitas masyarakat sehari-hari.
Unggahan tersebut pun menuai beragam tanggapan dari warganet. Salah satunya berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki akses jalan di wilayah tersebut.
“Semoga pemerintah mendengar, Bang. Mudahan lekas ada pengerasan jalan, jadi akses mudah. Soalnya kalau musim hujan pasti susah nian ini,” tulis salah seorang warganet.
Kisah warga Teluk Nilau ini menjadi gambaran bahwa di tengah semarak kemeriahan perayaan kemerdekaan, masih ada masyarakat yang berharap mendapatkan perhatian terhadap kebutuhan dasar mereka.
Bagi masyarakat di pelosok, makna kemerdekaan bukan hanya tentang kemeriahan perayaan dan pengibaran bendera Merah Putih.
Lebih dari itu, kemerdekaan juga berarti hadirnya akses jalan yang layak, fasilitas kesehatan dan transportasi yang memadai, serta pelayanan pemerintah yang dapat dirasakan hingga ke pelosok.
Ketika jenazah harus diantar sejauh lima kilometer dengan berjalan kaki, suara masyarakat pun kembali mengemuka: mereka hanya ingin akses yang lebih layak dan perhatian pemerintah terhadap kondisi yang mereka hadapi.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya menghubungi pemerintah desa, pihak kecamatan, maupun dinas terkait untuk memperoleh tanggapan resmi mengenai kondisi tersebut. Konfirmasi dan langkah pemerintah terhadap keluhan warga masih dinantikan. (Pn)
Editor : Redaksi
Sumber Berita : kabarpesisirjambi.com






