Kondisi Panjat Dinding Di Sport Center Tanjab Barat
kabarpesisirjambi.com, Tanjab Barat – Aroma persoalan dalam proyek pembangunan dinding panjat tebing di Sport Center Kabupaten Tanjung Jabung Barat kian menguat. Proyek bernilai fantastis, mencapai Rp. 3 miliar, kini tengah diperiksa secara intensif oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Jambi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun di tengah sorotan publik yang semakin tajam, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tanjab Barat, Apri Dasman, justru memilih irit bicara. Saat dikonfirmasi, ia hanya memberikan jawaban normatif tanpa penjelasan substansi.
“Tunggu hasil dari pemeriksaan BPK,” ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp.
Sikap tertutup ini memicu tanda tanya besar. Pasalnya, hingga kini belum ada klarifikasi resmi terkait kondisi riil proyek maupun dugaan penyimpangan yang mencuat ke permukaan.
Apakah temuan di lapangan sekadar persoalan teknis biasa, atau justru mengarah pada pelanggaran serius dalam proyek bernilai miliaran rupiah ini?
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pemeriksaan oleh tim BPK telah dilakukan sejak bulan Ramadhan 2026.
Dalam proses audit tersebut, pihak kontraktor juga diketahui turut mendampingi. Sosok Edi Lim, yang disebut sebagai pengurus perusahaan pelaksana proyek, terlihat hadir saat pemeriksaan berlangsung.
Kehadiran pihak kontraktor dalam proses audit ini semakin menegaskan bahwa proyek tersebut memang tengah menjadi perhatian serius auditor negara.
Di sisi lain, hasil pantauan langsung awak media di lokasi justru memperkuat kekhawatiran publik. Sejumlah kejanggalan fisik tampak jelas dan sulit diabaikan.
Bagian bawah pondasi misalnya, terlihat genangan air.
Kondisi ini berpotensi menggerus struktur tanah dan melemahkan daya dukung bangunan dalam jangka panjang. Tak hanya itu, beberapa bagian rangka besi bahkan sudah menunjukkan tanda-tanda korosi, meski proyek tergolong baru.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ditemukan sambungan besi tanpa baut pengunci, serta retakan pada tiang beton penyangga. Fakta ini menimbulkan pertanyaan serius terkait standar pengerjaan dan pengawasan proyek.
Kualitas finishing pun tak luput dari sorotan. Permukaan dinding panjat berbahan fiber yang dicampur pasir terasa kasar dan tidak rapi. Sementara hasil pengelasan rangka besi terlihat amburadul, jauh dari kesan konstruksi profesional.
Kondisi ini jelas bukan persoalan sepele. Mengingat fasilitas tersebut dirancang untuk aktivitas olahraga berisiko tinggi, aspek keamanan seharusnya menjadi prioritas mutlak.
Kini, publik hanya bisa menunggu. Apakah hasil audit BPK akan membuka tabir dugaan penyimpangan ini secara terang benderang, atau justru kembali menjadi catatan tanpa tindak lanjut yang jelas? Waktu yang akan menjawab.(Pn)
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Kadis PUPR Tanjab Barat






